Thursday, December 20, 2018

Mengenal dan Mencegah Pneumonia pada Anak

Satu bulan yang lalu, sekitar pertengahan bulan November saya dikejutkan dengan kabar dari teman saya yang memberi tahu kalau putri kecilnya, Rani, masuk UGD Rumah sakit dan harus dirawat. Setelah saya tanya apa penyakitnya, kakak saya bilang kalau Rani terkena pneumonia. Saya ikut sedih dan kasihan melihat bayi 4 bulan itu sudah harus merasakan sakitnya ditusuk oleh jarum suntik dan diinfus beberapa hari di Rumah sakit.


Kejadian tersebut tentu membuat saya penasaran dengan si pneumonia. Tega sekali dia menyerang anak cantik sekecil dan semanis Rani. Saya mulai mencari buku-buku kesehatan yang dulu pernah saya lahap di bangku kuliah. Tapi sayang semenjak saya pindah dari Bandung ke Bekasi, saya tidak membawa buku-buku kuliah saya dulu. Ingatan saya tentang si pneumonia hanya sebatas penyakit infeksi yang menyerang paru-paru. Penyebabnya? Ah, paling hanya karena daya tahan tubuh sedang tidak fit.

Beruntung, Kantor Berita Radio-KBR mengadakan acara yang sangat pas untuk menjelaskan segala kekepoan saya. Acara tersebut adalah Ruang Publik KBR bertema Mengenal dan Mencegah Pneumonia.


Gambar dari sini 

Acara yang diadakan di Tjikini Cafe and Resto, Menteng tersebut bekerjasama dengan Yayasan Sayangi Tunas Cilik Partner of Save The Children dan menghadirkan dua narasumber keren yaitu Ibu Selina Patta Sumbang sebagai Ketua Yayasan Sayangi Tunas Cilik Partner of Save The Children dan dr. Madeleine Ramdhani Jasin, Sp.A dari Ikatan Dokter Anak Indonesia. Selain itu, bergabung juga via telepon Orang tua dari Adik Witri, bayi dengan gejala pneumonia dari Desa Negrek Kab  Bandung.


Gambar dari sini
APA ITU PNEUMONIA?

Disampaikan oleh dr. Medeleine, bahwa Pneumonia adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur (yang tersering adalah bakreri dan jamur) yang menyerang paru-paru, dan biasa disebut radang paru.

Sebenarnya, pneumonia bisa terjadi pada siapa saja, baik anak-anak maupun pada dewasa. Namun, pneumonia lebih sering menyerang anak-anak mengingat daya tahan tubuh anak kecil masih lemah dan belum sekuat orang dewasa.


Menurut Riskesdas 2007, pneumonia merupakan penyebab kematian kedua setelah diare (15,5% di antara semua balita) dan selalu berada pada daftar 10 penyakit terbesar setiap tahunnya di gasilitas kesehatan. Nah, serem kan?

Infografis: Sri Wijayanti

GEJALA PNEUMONIA

Pada acara Ruang Publik KBR, orang tua adik Witri bercerita tentang kronologis putri kecilnya mengidap pneumonia. Jadi awalnya adik Witri, yang waktu itu usianya baru 3 bulan, hanya batuk dan pilek, sudah dua minggu tidak kunjung sembuh. Kemudian barulah timbul sesak nafas. Setelah itu, orang tua adik Witri langsung membawa Witri ke rumah sakit. Dari situlah orang tua adik Witri diberitahu dokter bahwa Witri terkena Pneumonia.

Menurut dr. Medeilene, gejala pneumonia bisa berupa gejala demam, batuk/pilek. Sedangkan gejala khasnya adalah adanya nafas lebih cepat dari biasanya dan tarikan dinding dada bagian bawah  ke dalam.

Infografs: Sri Wijayanti
FAKTOR RESIKO PNEUMONIA

dr. Medeleine Ramdhani Jasin, Sp.A mengungkapnya setidaknya ada 5 faktor resiko terjadinya pneumonia, terutama pada anak, yakni:

1. Gizi anak tidak tercukupi dengan baik
2. Pemberian ASI tidak ekslusif 6 bulan
3. MPASI tidak sesuai umur
4. Imunisasi tidak lengkap
5. Lingkungan penuh asap (terutama asap rokok) dan polusi

PENCEGAHAN PNEUMONIA

Pencegahan pneumonia bisa dilakukan dengan menghindari faktor resiko terjadinya pneumonia yaitu:

1. Pemberian gizi cukup dan seimbang
2. Pemberian ASI Ekslusif sampai anak berumur 6 bulan
3. Imunisasi lengkap
   Imunisasi yang dapat mencegah pneumonia diantaranya DPT, HiB, dan campak. Ketiga    jenis inunisasi ini sudah menjadi imunisasi dasar wajib yang difasilitasi oleh pemerintah.      Ada pula imunisasi tambahan yang masih dalam proses difasilitasi oleh pemerintah yaitu    vaksin pneunukokus dan influenza.
4. Bersihkan lingkungan dari asap rokok dan menyediakan sirkulasi udara yang baik bagi      lingkungan.

Infografis: Sri Wijayanti

Ibu Selina mengatakan, bahwa Yayasan Sayangi Tunas Cilik memiliki kampanye dalam 3 tahun ke depan (2019-2021) dalam membantu pemerintah mencegah pneumonia berupa:

1. Memastikan ada publikasi masalah, studi kasus kisah nyata tentang pneumonia
2. Sosialisasi intensif, termasuk diadakannya Kelas Ayah. Ibu Selina menegaskan peran orang tua sangatlah penting. Bukan hanya Ibu yang harus menyediakan gizi cukup dan seimbang untuk anak, namun peran Ayah juga sangat dibutuhkan. Contohnya, tidak merokok di dalam rumah atau tidak dekat dengan anak saat sedang merokok. Bahkan kalau bisa berhenti merokok sekalian. Selain itu, Ayah bisa mengingatkan Ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah menyiapkan / menyuapi makanan anak, setelah menyeboki anak, juga setelah berkegiatan. Bisa juga Ayah membantu Ibu menyiapkan makanan bergizi untuk anak.
3. Aksi pengenalan cuci tangan dari PAUD
4. Mobilisasi ( mencari champion/brand ambassador) yang bisa menggerakkan masyarakat agar lebih aware terhadap peneumonia

Infografis: Sri Wijayanti
Setelah mendengarkan Ruang Publik KBR, pikiran saya jadi jauh lebih terbuka tentang pneumonia. Jadi,  jangan anggap sepele anak kecil batuk pilek lama apalagi sampai ada sesak nafas, langsung bawa ke dokter ya Bunda.. Ternyata pneunomia juga bisa menyebabkan kematian bila tidak diatasi dengan segera. Dan untuk para Ayah, bantu kami ciptakan lingkungan sehat dengan berhenti merokok, dong.. Emang gemes ya lihat orang ngerokok tuh apalagi di tempat umum ditambah pas kita lagi bawa anak. Rasanya pengen langsung ambil rokoknya trus masukin ke mulutnya biar dia telan sendiri gitu asapnya. Siapa yang ngerokok, siapa yang kena asapnya..


Dan untuk teman-teman yang memiliki keluarga/sahabat dengan anak pneumonia, jangan khawatir, karena kata dr. Medeleine, semua penyakit infeksi menular pasti ada obatnya dan pasti bisa sembuh. Seperti adik Witri, kini dia sudah berumur 9 bulan dan bisa tumbuh sehat seperti teman-temannya yang lain. Stelah sembuh jangan lupa jaga lingkungan serta ikut bersama sama mencegah pneumonia berulang. Jangan lupa juga beri anak kita imunisasi dasar lengkap, karena imunisasi bergina untuk memperkuat aya tahan tubuh anak kita.

Seperti kata Ibu Selina, Yuk kita tanamkan pada kehidupan kita bersama-sama. 
STOP PNEUMONIA!
S : ASI saja sampai 6 bulan
T : Tuntaskan imunisasi
O : Observasi sesak nafas, segera bawa ke dokter
P : Pastikan kecukupan gizi

Infografis: Sri Wijayanti
Sumber Tulisan:
- Direktorat Jenderal P2PL, 2009 dalam Karya Tulis Ilmiah "Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kekambuhan Pasien Pneumonia" oleh Reny Kristiana, Fakultas Kesehatan UMP, 2013
- Buletin Peneumonia Balita, diterbitkan oleh Kementrian Kesehatan RI (Volume 3, September 2010)
- Laporan Riset Kesehatan 2007oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2007.
- Ruang Publik KBR "Mengenal dan Mencegah Pneumonia pada Anak" tanggal 13 Desember 2018. Rekaman live FB Kantor Berita Radio-KBR http://bit.ly/2SKaHGL

Sumber Gambar dan Infografis:
- Instagram Kantor Berita Radio-KBR http://instagram.com/@kbr.id
- Koleksi pribadi dan infografis milik Sri Wijayanti, pemilik tulisan ini.

7 comments:

  1. Tetangga saya anaknya pneumonia padahal msh 5 bulan kasihan sekali.. dan benar, bapaknya suka merokok di dalam rumah.
    Btw Infografisnya menarik mbak.

    ReplyDelete
  2. wah terima kasih sudah berbagi ya mba
    info yang penting ini sih

    ReplyDelete
  3. Helping and protecting children is a top priority for adults, as we must help them live a normal life and develop in order to become a full personal person.

    ReplyDelete
  4. If people know and understand the main symptoms, they will be able to seek help in order to reduce the risk of complications and provide assistance on time.

    ReplyDelete